AJARAN KEHIDUPAN DAN KEMATIAN
AJARAN KEHIDUPAN DAN AJARAN KEMATIAN
Kita berdebat lagi malam ini.
-“menurutmu kemana kau pergi setelah mati?” begitu kau membuka kata setelah membaca buku konyolmu.
“setelah mati? Aku tak memikirkannya. Aku lebih memikirkan kehidupan. Kau sendiri?”
-“aku yakin akan ke surga.”
“hmmm... pasti sekali jawabanmu.”
-“kau tidak yakin kesana?”
“aku bahkan tak tahu tempat apa itu. Dan tak ingin kupikirkan.”
-“kalau tidak ke surga ya ke neraka. Setiap orang yang sadar pasti memilih surga. Aku tidak tahu kau sadar apa tidak malam ini.”
“ya, memang aku tidak mau menyadari surga dan nerakamu. Kenapa hanya dua tempat itu? Tak adakah pilihan lain?”
-“??? Kau meledek?”
“tidak, kau hanya bertanya padaku tempat mana yang ku tuju setelah mati. Pertanyaan macam apa itu? Aku bahkan tidak pernah ingat jika aku pernah mati sebelumnya. Bagaimana aku tahu apa yang kurasakan setelah kematian?”
-“kau tidak percaya hidup setelah kematian?”
“kau percaya?”
-“ya, begitulah agama mengajar kita bukan?”
“jadi segala sesuatu yang diajarkan agama adalah apa yang akan terjadi setelah kematian?”
-“agama mengajarkan bahwa apa yang kita lakukan akan menetukan kemana kita setelah mati.”
“itu artinya ajaran agama adalah ajaran kematian.??”
-“???? Kau selalu membuat dongkol. Kehidupan setelah kematian. Bukan tentang kematian.”
“baik. Lalu apa yang kau lakukan agar masuk surga?”
-“percaya kepada Tuhan maha pengampun. Melakukan perintah dan menjauhi larangannya.”
“sepeti apa perintah, dan laranganNya?”
-“beribadah, mengasihi Tuhan, mengasihi sesama. Dan larangannya pasti kamu tau, tidak boleh menyakiti sesama, dengan tindakan apapun.”
“Hmmm...mengasihi sesama manusia, artinya berguna bagi sesama manusia. Saya fikir dari kalangan orang tak beragama juga melakukan hal yang sama. Apa mereka masuk surga?”
-“entahlah itu hak Tuhan. Aku tidak ingin melampaui apa yang kutahu.”
“dan kau melakukannya untuk mendapat surga setelah kau mati?”
-“ya tentu saja. Aku tidak ingin ke neraka.”
“terdengar seperti menyogok.”
-“Tuhan tidak dapat di sogok. Hanya melakukan perintahnya dengan iklas dan kita di ganjar surga.”
“iklhas? Aku lebih melihat keiklhasan dari orang-orang tak beragama itu, karena motivasinya adalah kemanusian, kasih, dan kehidupan yang nyata sekarang. Tanpa motivasi kotor tentang surga dan neraka.”
-“menginginkan surga, motivasi kotor? Kau menghina.”
“kau terlalu sibuk memikirkan surga dan neraka, kehidupan setelah kematian. Kenapa tidak kau fikirkan saja kehidupan yang ada di depanmu. Itulah pelajaran kehidupan. Bahwa segala sesuatu yang kita perbuat semasa hidup akan kita terima imbalannya selama kita hidup pula. Kita bekerja keras kita akan temukan hasilnya, kita mengasihi sesama kita akan panen buahnya. Itulah mengapa aku menyebut ajaran agama itu ajaran kematian, karena di dominasi ajaran janji setelah kematian. Kau pernah menyadari seberapa banyak orang atheis yang hidup kekal setelah kematiannya?”
-“??? Tidak mungkin. Jika pun mereka hidup pasti di neraka.”
“tak adakah yang kau fikirkan selain surga dan nerakamu? Mereka hidup di dunia ini, hidup dalam warisan-warisan kehidupan mereka, ajaran-ajaran, penemuan-penemuan tehnologi mereka, ilmu-ilmu kedokteran mereka, membuat kita hidup dengan lebih baik dan mudah. Itu karena mereka memikirkan kehidupan lebih banyak daripada kematian, yang mungkin bahkan mereka lupakan samasekali.”
-“maksudmu hidup abadi itu?”
“ya itulah kehidupan abadi yang kutahu. Ketika segala sesuatu yang kau wariskan setelah kematian tetap berguna bagi kehidupan. Lihat saja apa yang dilakukan ajaran kematian di dunia ini. Demi surga yang kau rindukan itu, perang, bom bunuh diri. Hujatan, makian, dan segala sesuatu yang menghambat berjalannya kehidupan adalah ajaran kematian.”
-“aku tidak mengikuti agama kekerasan. Tapi kasih. Tidak ada orang yang mati bunuh diri masuk surga.”
“itu karena kau membaca sebuah kitab dan mendirikan kebenaran didasarkan kitab itu.”
-“tentu saja, itulah kebenaran dari Tuhan, karena itu firmanNya.”
“dan mereka melakukan hal yang sama dengan kitabnya. Kenapa kau memaksakan kitabmu sebagai dasar kebenaran untuk menghakimi kitab orang lain dan ajarannya?”
-“kau benar-benar gila, kau mencela firman?”
“Aku hanya mengatakan apa yang kufikirkan. Jika ingin membahas kehidupan, gunakanlah kemanusian sebagai patokan kebenaran, bukan kitab.”
-“kitab suci juga mengajarkan kemanusian dan kasih sesama manusia.”
“tapi kau mengkotaknya dengan tujuan surga dan neraka. Itulah yang menghilangkan ajaran kasih itu dari agama. Kau berkata aku masuk surga dan mereka ke neraka, mereka berkata sebaliknya. Kalian sibuk berebut surga dan neraka, dan melupakan kehidupan yang ada didepan mata. Itulah agama, ajaran kematian. Aku lebih suka ajaran kehidupan.”
-“jadi kau atheis sekarang?”
“kau sudah mengatakannya.”
RH.
