Senin, 22 Mei 2017

BIARKAN DIA BICARA



BIARKAN DIA BICARA
Dia berontak, tak tahan lagi kubungkam. Maka kubiarkan ia bebas menerobos batas-batas norma yang sudah tertanam sejak lama.
Kini biarlah dia bicara saja.
Biarkan saja dia mencerabut pohon-pohon tak berakar itu. Biarka dia hancurkan kebenaran yang timpang itu.
Akulah ilalang yang tumbuh tanpa ditanam diantaramu. Akulah ilalang yang dikutuk oleh buku-buku suci. Aku tumbuh di tanah yang sama denganmu, diciptakan oleh Tangan yang sama, pada hari yang sama. Ilalang tak meminta dicipta menjadi ilalang, begitu juga denganmu. Kau dicipta agar bertumbuh dan berbuah seribu kali lipat. aku tercipta untuk dibakar, agar kau terlihat dikasihi?
Aku terlahir dengan wajah bersalah, lalu kau sombongkan kebenaran?
Jika penyesatan tak ada lalu untuk apa penyelamatan? Pencarian?
Aku harus kotor, agar kau terlihat bersih. Aku terkutuk agar kau terberkati. Aku tercabut agar akarmu kuat dan menghasilkan buah seribu kali lipat.
Lalu apakah beda antara kau dan aku? Persepsi.
Akulah kegelapan yang sejak semula ada, alasan Terang harus tercipta.
Aku yang diabaikan lalu dicela.
Terang lahir dalam kandunganku. Lalu mengusirku. Tapi dia tetap dalamku.
Akulah kegelapan yang membutakan, tapi bukanlah nafsu kuasa. Karena pada dasarnya aku memiliki kuasa. Akulah kegelapan yang menutupi ketelanjanganmu sebelum sipembawa Cahaya itu datang dan membukakan matamu, dan meneranginya.
Akulah yang melingkupi fikiranmu, sebelum bintang timur membukakan hatimu. Lalu mengerti dengan ketelanjanganmu yang memalukan itu, lalu kau tutupi dengan pengetahuan dangkalmu.
Ada sebuah cerita tertulis dalam sebuah buku tentang seorang ayah, yang meletakkan buah beracun pada keranjang anak bayinya, yang belum mengerti akan bahaya. Dia pasti sudah tahu apa yang akan  terjadi. Anaknya mati hari itu juga, lalu sang ayah  menyalahkan pengasuhnya. Mungkin ini lelucon terburuk sepanjang sejarah.
Aku tidak sedang memcoba mengganggu imanmu.
Karena itulah yang dikatakan penghulu-penghulumu, yang merasa dekat dengan Sang Terang. Mereka yang merasa punya hak menghakimimu dengan kebohongan. Mereka bercerita tentang surga, dengan janji-janji kenikmatan dunia yang menggiurkan. (atau menjijikkan.) sekaligus dengan ancaman neraka yang mengerikan. Kebohongan yang tersusun rapi selama ribuan tahun, menutupi segala hakikat kebenaran.
Selidikilah segala sesuatu. (bukankah ada tertulis?)
Pakailah akal tentu saja. Selidikilah roh-roh yang berbicara padamu dalam buku-buku, dalam rumah ibadah. Berhentilah sejenak menginginkan surga, lupakan sejenak neraka.
Ketakutan akan kematianlah yang menimbulkan, ilusi-ilusi pembunuh logika. Bebaskan hatimu, merdekakan nuranimu. Terobos batas-batas norma aneh tak beralasan itu. Kenapa kau harus tunduk? Kenapa kau tidak boleh mempertanyakan segala sesuatu yang memenjarakan hati dan fikiranmu? Bahkan membunuh banyak nurani, menjadikan banyak manusia tanpa roh (zombie). Doktrin hanya penjara, dogma adalah racun. 


Maka BIARKAN DIA BICARA.