Selasa, 06 Juni 2017


AJARAN KEHIDUPAN DAN KEMATIAN




AJARAN KEHIDUPAN DAN AJARAN KEMATIAN
Kita berdebat lagi malam ini.
-“menurutmu kemana kau pergi setelah mati?” begitu kau membuka kata setelah membaca buku konyolmu.
“setelah mati? Aku tak memikirkannya. Aku lebih memikirkan kehidupan. Kau sendiri?”
-“aku yakin akan ke surga.”
“hmmm... pasti sekali jawabanmu.”
-“kau tidak yakin kesana?”
“aku bahkan tak tahu tempat apa itu. Dan tak ingin kupikirkan.”
-“kalau tidak ke surga ya ke neraka. Setiap orang  yang sadar pasti memilih surga. Aku tidak tahu kau sadar apa tidak malam ini.”
“ya, memang aku tidak mau menyadari surga dan nerakamu. Kenapa hanya dua tempat itu? Tak adakah pilihan lain?”
-“??? Kau meledek?”
“tidak, kau hanya bertanya padaku tempat mana yang ku tuju setelah mati. Pertanyaan macam apa itu? Aku bahkan tidak pernah ingat jika aku pernah mati sebelumnya. Bagaimana aku tahu apa yang kurasakan setelah kematian?”
-“kau tidak percaya hidup setelah kematian?”
“kau percaya?”
-“ya, begitulah agama mengajar kita bukan?”
“jadi segala sesuatu yang diajarkan agama adalah apa yang akan terjadi setelah kematian?”
-“agama mengajarkan bahwa apa yang kita lakukan akan menetukan kemana kita setelah mati.”
“itu artinya ajaran agama adalah ajaran kematian.??”
-“???? Kau selalu membuat dongkol. Kehidupan setelah kematian. Bukan tentang kematian.”
“baik. Lalu apa yang kau lakukan agar masuk surga?”
-“percaya kepada Tuhan maha pengampun. Melakukan perintah dan menjauhi larangannya.”
“sepeti apa perintah, dan laranganNya?”
-“beribadah, mengasihi Tuhan, mengasihi sesama. Dan larangannya pasti kamu tau, tidak boleh menyakiti sesama, dengan tindakan apapun.”
“Hmmm...mengasihi sesama manusia, artinya berguna bagi sesama manusia. Saya fikir dari kalangan orang tak beragama juga melakukan hal yang sama. Apa mereka masuk surga?”
-“entahlah itu hak Tuhan. Aku tidak ingin melampaui apa yang kutahu.”
“dan kau melakukannya untuk mendapat surga setelah kau mati?”
-“ya tentu saja. Aku tidak ingin ke neraka.”
“terdengar seperti menyogok.”
-“Tuhan tidak dapat di sogok. Hanya melakukan perintahnya dengan iklas dan kita di ganjar surga.”
“iklhas? Aku lebih melihat keiklhasan dari orang-orang tak beragama itu, karena motivasinya adalah kemanusian, kasih, dan kehidupan yang nyata sekarang. Tanpa motivasi kotor tentang surga dan neraka.”
-“menginginkan surga, motivasi kotor? Kau menghina.”
“kau terlalu sibuk memikirkan surga dan neraka, kehidupan setelah kematian. Kenapa tidak kau fikirkan saja kehidupan yang ada di depanmu. Itulah pelajaran kehidupan. Bahwa segala sesuatu yang kita perbuat semasa hidup akan kita terima imbalannya selama kita hidup pula. Kita bekerja keras kita akan temukan hasilnya, kita mengasihi sesama kita akan panen buahnya. Itulah mengapa aku menyebut ajaran agama itu ajaran kematian, karena di dominasi ajaran janji setelah kematian. Kau pernah menyadari seberapa banyak orang atheis yang hidup kekal setelah kematiannya?”
-“??? Tidak mungkin. Jika pun  mereka hidup pasti di neraka.”
“tak adakah yang kau fikirkan selain surga dan nerakamu? Mereka hidup di dunia ini, hidup dalam warisan-warisan kehidupan mereka, ajaran-ajaran, penemuan-penemuan tehnologi mereka, ilmu-ilmu kedokteran mereka, membuat kita hidup dengan lebih baik dan mudah. Itu karena mereka memikirkan kehidupan lebih banyak daripada kematian, yang mungkin bahkan mereka lupakan samasekali.”
-“maksudmu hidup abadi itu?”
“ya itulah kehidupan abadi yang kutahu. Ketika segala sesuatu yang kau wariskan setelah kematian  tetap berguna bagi kehidupan. Lihat saja apa yang dilakukan ajaran kematian di dunia ini. Demi surga yang kau rindukan itu, perang, bom bunuh diri. Hujatan, makian, dan segala sesuatu yang menghambat berjalannya kehidupan adalah ajaran kematian.”
-“aku tidak mengikuti agama kekerasan. Tapi kasih. Tidak ada orang yang mati bunuh diri masuk surga.”
“itu karena kau membaca sebuah kitab dan mendirikan kebenaran didasarkan kitab itu.”
-“tentu saja, itulah kebenaran dari Tuhan, karena itu firmanNya.”
“dan mereka melakukan hal yang sama dengan kitabnya. Kenapa kau memaksakan kitabmu sebagai dasar kebenaran untuk menghakimi kitab orang lain dan ajarannya?”
-“kau benar-benar gila, kau mencela firman?”
“Aku hanya mengatakan apa yang kufikirkan. Jika ingin membahas kehidupan, gunakanlah kemanusian sebagai patokan kebenaran, bukan kitab.”
-“kitab suci juga mengajarkan kemanusian dan kasih sesama manusia.”
“tapi kau mengkotaknya dengan tujuan surga dan neraka. Itulah yang menghilangkan ajaran  kasih itu dari agama. Kau berkata aku masuk surga dan mereka ke neraka, mereka berkata sebaliknya. Kalian sibuk berebut surga dan  neraka, dan melupakan kehidupan yang ada didepan mata. Itulah agama, ajaran kematian. Aku lebih suka ajaran kehidupan.”
-“jadi kau atheis sekarang?”
“kau sudah mengatakannya.”
RH.

Senin, 22 Mei 2017

BIARKAN DIA BICARA



BIARKAN DIA BICARA
Dia berontak, tak tahan lagi kubungkam. Maka kubiarkan ia bebas menerobos batas-batas norma yang sudah tertanam sejak lama.
Kini biarlah dia bicara saja.
Biarkan saja dia mencerabut pohon-pohon tak berakar itu. Biarka dia hancurkan kebenaran yang timpang itu.
Akulah ilalang yang tumbuh tanpa ditanam diantaramu. Akulah ilalang yang dikutuk oleh buku-buku suci. Aku tumbuh di tanah yang sama denganmu, diciptakan oleh Tangan yang sama, pada hari yang sama. Ilalang tak meminta dicipta menjadi ilalang, begitu juga denganmu. Kau dicipta agar bertumbuh dan berbuah seribu kali lipat. aku tercipta untuk dibakar, agar kau terlihat dikasihi?
Aku terlahir dengan wajah bersalah, lalu kau sombongkan kebenaran?
Jika penyesatan tak ada lalu untuk apa penyelamatan? Pencarian?
Aku harus kotor, agar kau terlihat bersih. Aku terkutuk agar kau terberkati. Aku tercabut agar akarmu kuat dan menghasilkan buah seribu kali lipat.
Lalu apakah beda antara kau dan aku? Persepsi.
Akulah kegelapan yang sejak semula ada, alasan Terang harus tercipta.
Aku yang diabaikan lalu dicela.
Terang lahir dalam kandunganku. Lalu mengusirku. Tapi dia tetap dalamku.
Akulah kegelapan yang membutakan, tapi bukanlah nafsu kuasa. Karena pada dasarnya aku memiliki kuasa. Akulah kegelapan yang menutupi ketelanjanganmu sebelum sipembawa Cahaya itu datang dan membukakan matamu, dan meneranginya.
Akulah yang melingkupi fikiranmu, sebelum bintang timur membukakan hatimu. Lalu mengerti dengan ketelanjanganmu yang memalukan itu, lalu kau tutupi dengan pengetahuan dangkalmu.
Ada sebuah cerita tertulis dalam sebuah buku tentang seorang ayah, yang meletakkan buah beracun pada keranjang anak bayinya, yang belum mengerti akan bahaya. Dia pasti sudah tahu apa yang akan  terjadi. Anaknya mati hari itu juga, lalu sang ayah  menyalahkan pengasuhnya. Mungkin ini lelucon terburuk sepanjang sejarah.
Aku tidak sedang memcoba mengganggu imanmu.
Karena itulah yang dikatakan penghulu-penghulumu, yang merasa dekat dengan Sang Terang. Mereka yang merasa punya hak menghakimimu dengan kebohongan. Mereka bercerita tentang surga, dengan janji-janji kenikmatan dunia yang menggiurkan. (atau menjijikkan.) sekaligus dengan ancaman neraka yang mengerikan. Kebohongan yang tersusun rapi selama ribuan tahun, menutupi segala hakikat kebenaran.
Selidikilah segala sesuatu. (bukankah ada tertulis?)
Pakailah akal tentu saja. Selidikilah roh-roh yang berbicara padamu dalam buku-buku, dalam rumah ibadah. Berhentilah sejenak menginginkan surga, lupakan sejenak neraka.
Ketakutan akan kematianlah yang menimbulkan, ilusi-ilusi pembunuh logika. Bebaskan hatimu, merdekakan nuranimu. Terobos batas-batas norma aneh tak beralasan itu. Kenapa kau harus tunduk? Kenapa kau tidak boleh mempertanyakan segala sesuatu yang memenjarakan hati dan fikiranmu? Bahkan membunuh banyak nurani, menjadikan banyak manusia tanpa roh (zombie). Doktrin hanya penjara, dogma adalah racun. 


Maka BIARKAN DIA BICARA.

Jumat, 10 Februari 2017

MENJAWAB RINDU








MENJAWAB RINDU

Guncangan dari roda bus yang melindas batu kasar yang nyaris tanpa aspal membangunkanku dari tidur, entah bermimpi apa tadi, begitu saja luntur dari ingatan. Perjalanan sepanjang sepuluh jam dari kota medan, setelah beberapa jam dari pulau seberang, telah kami mulai jam sembilan tadi malam. 
Bunyi gemerutuk roda, derit badan bus tua, bersatu dengan suara alam meyambut pagi seperti harmoni yang terdengar ganjil. Tiupan angin subuh menyeruak dingin dari sela-sela kaca kusam yang sudah tak tertutup rapat, memaksaku membuka mata.
Ohh..... Lihat, ini sudah di Panatapan... Artinya aku hampir sampai, ya dua jam lagi jika keadaan jalan tidak semakin buruk.
Lihat semburat pagi di balik gunung bukit barisan, membiaskan cahaya emas. Nun jauh diutara bias Danau toba terlihat malas melepaskan selimut tebalnya. 
Kubuka kaca membiarkan udara dingin itu masuk, kuhirup, kuisi paru-paruku dengan nafas yang kurindukan di ribuan pagi. Huhhhh... Kurasakan kehidupan yang lebih hidup. Entahlah aku tak pintar mengutarakannya. 
Entah kenapa juga jantungku berpacu lebih cepat ketika melihat barisan gunung yang memeluk kampung halamanku dengan setia dari ratusan tahun, nun jauh disana, masih terlelap dengan selimut awan putihnya, ohhh damainya, indahnya... Aku hampir bergumam, tapi tersangkut di seperti remaja yang malu mengucapkan cinta.
Aku pulang menjawab rindu,
Aku pulang menjawab panggilanmu yang terdengar disela-sela keriuhan malam.
Ratusan purnama kulewati di pulau seberang laut. Ribuan malam aku memendam rindu, pada sambulonhu na damei (tanah kelahiran yang damai). 
 Lihat kebun teh yang menghampar luas bak permadani hijau.. Ahh Sibosur. 
 Jurang-jurang dalam, kelokan-kelokan tajam, jalan sempit berbatu kasar, serasa bukan sesuatu yang menakutkan disini. Bau haminjon(kemenyan) bau addaliman yang tumbuh subur sepanjang jalan. Di selingi dengan wangi bunga kopi akan menghipnotismu.
Parsoburan, Lumban Rau, onan Borbor, sambulonhu dengan benteng gunung Bukit Barisan
Aku tiba, menjawab rindu.