BIARKAN DIA BICARA
Dia berontak, tak tahan lagi kubungkam. Maka kubiarkan ia bebas
menerobos batas-batas norma yang sudah tertanam sejak lama.
Kini biarlah dia bicara saja.
Biarkan saja dia mencerabut pohon-pohon tak berakar itu. Biarka
dia hancurkan kebenaran yang timpang itu.
Akulah ilalang yang tumbuh tanpa ditanam diantaramu. Akulah ilalang
yang dikutuk oleh buku-buku suci. Aku tumbuh di tanah yang sama denganmu,
diciptakan oleh Tangan yang sama, pada hari yang sama. Ilalang tak meminta
dicipta menjadi ilalang, begitu juga denganmu. Kau dicipta agar bertumbuh dan
berbuah seribu kali lipat. aku tercipta untuk dibakar, agar kau terlihat
dikasihi?
Aku terlahir dengan wajah bersalah, lalu kau sombongkan
kebenaran?
Jika penyesatan tak ada lalu untuk apa penyelamatan? Pencarian?
Aku harus kotor, agar kau terlihat bersih. Aku terkutuk agar
kau terberkati. Aku tercabut agar akarmu kuat dan menghasilkan buah seribu kali
lipat.
Lalu apakah beda antara kau dan aku? Persepsi.
Akulah kegelapan yang sejak semula ada, alasan Terang harus
tercipta.
Aku yang diabaikan lalu dicela.
Terang lahir dalam kandunganku. Lalu mengusirku. Tapi dia
tetap dalamku.
Akulah kegelapan yang membutakan, tapi bukanlah nafsu kuasa.
Karena pada dasarnya aku memiliki kuasa. Akulah kegelapan yang menutupi
ketelanjanganmu sebelum sipembawa Cahaya itu datang dan membukakan matamu, dan
meneranginya.
Akulah yang melingkupi fikiranmu, sebelum bintang timur
membukakan hatimu. Lalu mengerti dengan ketelanjanganmu yang memalukan itu,
lalu kau tutupi dengan pengetahuan dangkalmu.
Ada sebuah cerita tertulis dalam sebuah buku tentang seorang
ayah, yang meletakkan buah beracun pada keranjang anak bayinya, yang belum
mengerti akan bahaya. Dia pasti sudah tahu apa yang akan terjadi. Anaknya mati hari itu juga, lalu
sang ayah menyalahkan pengasuhnya. Mungkin
ini lelucon terburuk sepanjang sejarah.
Aku tidak sedang memcoba mengganggu imanmu.
Karena itulah yang dikatakan penghulu-penghulumu, yang
merasa dekat dengan Sang Terang. Mereka yang merasa punya hak menghakimimu
dengan kebohongan. Mereka bercerita tentang surga, dengan janji-janji
kenikmatan dunia yang menggiurkan. (atau menjijikkan.) sekaligus dengan ancaman
neraka yang mengerikan. Kebohongan yang tersusun rapi selama ribuan tahun,
menutupi segala hakikat kebenaran.
Selidikilah segala sesuatu. (bukankah ada tertulis?)
Pakailah akal tentu saja. Selidikilah roh-roh yang berbicara
padamu dalam buku-buku, dalam rumah ibadah. Berhentilah sejenak menginginkan
surga, lupakan sejenak neraka.
Ketakutan akan kematianlah yang menimbulkan, ilusi-ilusi
pembunuh logika. Bebaskan hatimu, merdekakan nuranimu. Terobos batas-batas
norma aneh tak beralasan itu. Kenapa kau harus tunduk? Kenapa kau tidak boleh
mempertanyakan segala sesuatu yang memenjarakan hati dan fikiranmu? Bahkan membunuh
banyak nurani, menjadikan banyak manusia tanpa roh (zombie). Doktrin hanya
penjara, dogma adalah racun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar